Tampilkan postingan dengan label puisi-puisi aji jawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi-puisi aji jawa. Tampilkan semua postingan

Rinduku Padamu


Rasa ini...
Rasa ini semakin keras meremas jiwa yang terkurung rapuh
Membuatku beku karena merindumu
Membuatku merintih karena sakitnya

Rasa ini adalah sepi yang merantai hati
Yang semua tulisanku tak kan mampu mengobati
Yang semua musik dan melodi tak kan mampu mengiringi

Rasa ini adalah rinduku padamu yang kini jadi belenggu
Penjara jiwa yang mematikan rasa hingga membuat semua tak ada

Tak ada suatu apa 
... selain rinduku padamu 
... yang makin menyiksaku
Tak ada suatu apa
... selain rinduku padamu 
... yang membuatku tak mampu lagi menyanyikan lagu-lagumu
Tak ada suatu apa
... selain rinduku padamu 
...  yang suatu hari nanti akan membunuhku sendiri

oleh : Muhammad Aji Setiawan


** : Puisi ini didedikasikan untuk almarhumah Nike Ardila yang sejak penghujung tahun 2009 telah menjadi inspirasi yang tak pernah mati bagi penulis. Dan puncaknya pada tanggal 9 Mei 2011,  penulis sangat merindukan almarhum, dan akhirnya menuangkannya dalam sebuah puisi. "Rinduku Padamu" adalah salah satu wujud dari puisi itu.  



“Nostalgia Angka Gila” 
(oleh : Muhammad Aji Setiawan)
 
Dan gila                   Menghampiri
Karena      waktuku                   Tersita          Untukmu
                                                Hilang
Otakku                             Untuk angka – angkamu
                  
          Apa  jadinya                             Masa depan          Matematika

“Rakyat Kucing dan Anjing”

Bodoh kau masih mengeong
Mereka sudah menggonggong
Hanya merengek tak didengar
Berteriak baru ketahuan

Salah siapa hidup di Negara serigala
Di sini tak ada bahasa manusia
Istana sudah tak peka dengan bau rakyatnya

Sekarang kita sesak berdesakan
Sudah kebanyakan orang
Besok ruwet amburadul
Kalau semprawut …buang saja ke laut !

Pernah kau berkaca ?
Kita seperti rakyat ‘kucing’ dan ‘anjing’ !
Lebih parah bahkan
Makan saja rebutan


Setiawan aji muhammad

“Sepi Yang Panjang”


Otakku mulai membeku
Bersama kepala seiring kata
Pergi sana menjauh !
Terbang saja menghilang !
Benar, kau tak kasihan ?

Marilah marah
Karna kemarin lusa…
….terlalu jauh kau jatuh
Hinggap pada bunga berkaca
Pergilah tertawa !

Aku sendiri
Siapa peduli
Sakit ini lebih dalam
Lukanya menikam
Hati merintih…pedih…perih

Badannku mulai lemas
Lututku terkelupas
Asmaku sedang kumat
Bisa aku minta obat

Sepi yang panjang
Maukah kau berteman
Pada orang tak berkawan
Pada aku yang terbuang


Setiawan aji Muhammad

“Tidur Panjang Seorang Aku”


Kau hidup benar - benar sendiri
Seperti burung tinggi terbang terbang
Ke awan - awan di atas ilalang

Kau hidup benar - benar terbuang
Mati mati bangkai belatung
Dalam dalam dikubur bumi bumiku

Sekarang benar - benar sepi sunyi
Gelap gelap gulita gemerlap
Uplik sentir semua terlelap
Dalam tidur panjang…
…seorang aku


Setiawan aji Muhammad

“Pelarian Jerit Hati”


Mungkin…
Puisi tak berarti
Atau mungkin…
Orang – orang  tak tahu karya seni

Kenapa kadang dirobek?
Kenapa kadang di buang?
Katanya itu sampah
Katanya itu setan

Sepertinya..
Ini tulisan tak berkesan

Ini puisi
Tempat pelarian..
…jerit hati


Setiawan aji muhammad